Wise While Online: Think Before Posting

20 Nov 2010

Warnet

Kenapa sih tahun kelahirannya diumpetin? Malu ya sama umur?

Pertanyaan di atas diajukan seorang teman, dia penasaran kenapa beberapa temannya (termasuk saya) tidak mencantumkan tahun kelahiran di profil facebook. Wah, saya tidak malu dengan umur saya. Bangga malah. :P

Alasan saya tidak mencantumkannya lebih dikarenakan masalah keamanan/privasi. Maksud saya, semakin banyak data dan informasi yang disampaikan di sebuah profil jejaring sosial akan semakin memperbesar kesempatan pihak lain untuk berbuat jahat.

“Cracker (hacker jahat) itu canggih, membobol internet lewat kemampuan programmingnya”, tampaknya sudah jadi opini umum ya? Padahal, seringkali penjahat cyber cuma menebak-nebak password saja; mulai dari nama, biodata, hal-hal favorit, atau kombinasi ketiganya.

Ah, lebay. Siapa juga yang mau ngebajak facebook elo? Emang lo siapa? Selebritis? Wkwkwwk, begitu komentar teman saya yang lain. :(

Duh, padahal banyak hal negatif yang bisa menimpa kita jika kurang bijaksana dalam berbagi info pribadi: seperti spam yang membanjiri inbox email, ancaman penipuan/pishing, juga kiriman program jahat (virus, spyware, malware). Oh, iya. Teman saya yang berkomentar meremehkan di atas, awal bulan ini akun facebooknya baru saja dibajak oleh mantan pacarnya.

Tidak sedikit orang yang berpikir pornografi adalah satu-satunya hal negatif yang bisa pengguna internet dapatkan, kenyataannya ada banyak hal yang berpotensi merugikan (baik secara moril maupun materiil) di internet; dan hal-hal tersebut ironisnya umum dilakukan oleh para netizen. :( Cyberbullying misalnya.

Menurut situs ICTWatch, cyberbullying merupakan aksi di mana pelaku bertindak di luar batas kepada orang lain dengan cara mengirim atau memposting materi yang dapat merusak kredibilitas, menghina atau melakukan serangan sosial dalam berbagai bentuk, dengan memanfaatkan internet atau teknologi digital lainnya sebagai medianya.

Contoh paling ekstrimnya sih: situs-situs yang menghina kelompok/agama tertentu, menyebarkan fitnah, mengadu domba, dan sebagainya. Kalau suatu saat kita menemukan situs-situs seperti ini, tidak perlu dibesar-besarkan: tidak usah dikomentari secara berlebihan atau diinfokan ke teman-teman kita. Langsung saja laporkan ke Depkominfo agar segera ditindak. Caranya: kirim email ke aduankonten@depkominfo.go.id.

Oh iya, ngomong-ngomong tentang Depkominfo, kasus salaman yang kemarin menimpa bapak Menteri Komunikasi & Informasi itu juga contoh lain dari cyberbullying. Lihat saja bagaimana beliau diolok-olok oleh berbagai pihak di berbagai situs jejaring sosial sampai media-media dari luar negeri juga ikut membahasnya! :(

Seharusnya kita bisa bertindak dengan bijaksana, coba bayangkan kalau situasinya dibalik: ketika kita berbuat kesalahan, pasti inginnya dikritik dengan halus dan lewat bahasa yang sopan, bukannya diejek-ejek kan? Yuk, kita mulai saling menghargai perasaan orang lain: berikan krtitik yang membangun, hindari kritik yang isinya hanya mengekspos kesalahan yang sudah dilakukan. :)

Selain menghargai perasaan, kita harus menghargai buah kreativitas orang lain juga. Contohnya dengan tidak memplagiat karya orang lain dan/atau tidak *uhuk* membajak (termasuk mengunduh secara ilegal) karya orang lain. :P

Hayooo.. siapa yang hobinya mengunduh file bajakan? :P Dulu saya rajin nih unduh mp3 dan program komputer (biasanya sih antivirus versi cracked) tapi sekarang sudah tidak pernah. Untung jumlah freeware yang handal semakin banyak, jadi saya mulai mengoptimalkan software-software gratis ini.

Nah, file yang paling sering diunduh secara ilegal biasanya yang bertipe multimedia; seperti lagu (mp3). Padahal rata-rata musisi kan mengandalkan pemasukan dari penjualan album, kalau dagangan mereka tidak ada yang beli mereka dapat uang dari mana? Yuk, kita hargai para artis dan musisi; bisa dengan membeli kaset/CDnya, mengunduh lagunya di situs legal, menggunakan RBT-nya, atau (yang paling saya suka) datang ke konser mereka. :D

Situs unduh film ilegal juga akhir-akhir ini juga mulai jadi trend. Padahal (sama seperti menghargai musisi) sebaiknya kita menonton langsung di bioskop. Selain karena sumber penghasilan utama industri film adalah dari tiket bioskop, juga karena nonton di bioskop itu rasanya puas: layarnya lebar + soundsystem-nya oke banget. Membeli VCD/DVD original juga opsi yang baik, karena biasanya berhadiah bonus-bonus yang menarik. :D

Repot ya? :P Tapi bukan berarti mustahil dong? Semuanya bisa kok kita lakukan perlahan-lahan, dimulai dari menghargai karya musisi/sineas favorit kita saja dulu. :D Lalu sembari belajar mengurangi aktivitas negatif di internet, kita juga bisa loh melakukan hal-hal sederhana yang bermanfaat bagi orang lain.

Sahabat saya Krisna contohnya, sudah mulai melakukan hal ini: dia rutin memberi info tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di twitter. Ketika ada teman yang salah menulis sebuah kosakata, Krisna mengoreksinya. Itu hal yang sederhana tapi sangat berguna, sebab kalau dipikir kita kan orang Indonesia, masa iya ngomong bahasa Indonesia aja gak becus? Malu dong?!. :P

Nah, umpamanya kita mau berbagi info yang lebih kompleks kepada khalayak yang lebih luas lagi (tidak sebatas teman-teman di situs jejaring sosial saja), kita bisa memanfaatkan media blog. Saya pribadi lebih memilih blog sebagai media untuk berbagi. Selain karena ruang lingkup pembacanya yang lebih besar (bisa diakses seluruh pengguna internet) blog juga memiliki sistem pengarsipan yang lebih baik.

Untuk contoh blog yang baik dan bermanfaat, para finalis Internet Sehat Blog & Content Award hasil kerjasama Detik dengan ICTWatch bisa dijadikan panutan (daftar lengkap finalisnya bisa dibuka di sini). Tapi ingat, jangan mengkloning postingan ya… Maksudnya, jangan copy-paste tulisan milik orang lain begitu saja, minta izin dulu ke si pemilik tulisan (biasanya diizinkan kok) dan jangan lupa sertakan link ke tulisan aslinya. :D

Ide lain untuk berbagi di internet adalah dengan membuat situs yang bermanfaat. Andrew Darwis misalnya, beliau punya ide sederhana: membuat tempat dimana orang Indonesia bisa berkumpul dan berdiskusi tentang apa saja. Hasilnya? Kaskus jadi situs Indonesia nomor satu, bahkan sampai menciptakan gaya bahasanya sendiri yang khas banget. Mangstab Gan! :D Siapa tahu situs bikinan kita nanti bisa mendunia, seperti Koprol yang dibeli oleh Yahoo; atau mungkin malah jadi the next big thing setelah facebook? Amin! :D

Kalau ngobrolin facebook, saya jadi ingat sebuah selentingan yang menyatakan kalau Mark Zuckerberg (pendirinya) agak anti sosial: sulit bergaul dengan teman-temannya. Dan hal ini konon mulai menjadi efek samping dari situs jejaring sosial itu sendiri: orang begitu kecanduan berinteraksi di dunia maya tetapi jadi tak acuh dengan lingkungan sekitarnya. :( Saya sih merasa pemandangan seperti ini mulai umum terlihat: sekelompok teman yang duduk satu meja, masing-masing malah asik sendiri dengan perangkat genggamnya. Miris, ini sih sudah jadi perilaku internet yang tidak sehat namanya. Seharusnya kegiatan berinternet kita tidak mengorbankan aktivitas di dunia nyata. Jangan sampai ya!

Ayo kita buktikan kalau kita bisa menjadi orang hebat dan sehat di dunia maya sekaligus di dunia nyata! :)

~~~

Bonus! (Keren kan ada bonusnya? :P )

Di bawah ini ada materi menarik tentang internet sehat yang saya dapat dari situs ICTWatch; tinggal klik-kanan link-nya lalu di’save-as’. Silahkan diunduh. :)

~~~

Catatan

Untuk info lebih lanjut tentang internet sehat, silahkan hubungi:

Indonesia ICT Partnership (ICT Watch)

Perumahan/Jalan Rawa Bambu I, No.B/10, Pasar Minggu, Jakarta Selatan 12520, Indonesia


TAGS Festival BLOG 2010


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post